Aku sudah banyak tersenyum. Tertawa untuk segala hal gila. Kau suka aku tertawa, maka aku tertawa. Aku akan terus melakukannya, hingga kupikir aku tak perlu lagi membuat diriku sendiri tertawa sebodoh itu.
Nyatanya, kau tidak hanya suka tawaku. Tidak hanya suka membuatku tertawa. Tidak hanya aku. Aku akan baik-baik saja dengan hal sesepele itu. Ya, aku akan baik-baik saja.
Kau tahu aku sudah menghapus seperdua kenangan itu. Seperdua. Sudah mencapai setengah bagian. Tetapi setengahnya masih tersisa, dan aku masih mengupayakannya.
Kita tidak istimewa. Tidak seromantis pasangan-pasangan di luar sana yang setengah mati memperlihatkan betapa romantisnya mereka. Ya, kita tidak pernah. Dunia tidak tahu tentang kita.
Kisah kita tidak istimewa, tetapi kita unik. Kita tidak banyak mengutarakan perasaan, meskipun pernah beberapa kali berbicara tentang masa depan.
Kini, kita bukan lagi sepasang manusia yang penuh dengan berkat kebersamaan. Kita tidak lagi punya itu. Tetapi kita tidak menjadi sebegitu asing. Aku harus menyebutnya apa? Pertemanan yang asing? Perasaan yang karam? Atau takdir yang pada pertengahan baris, Tuhan berhenti menuliskannya?
Ada yang lebih tepat daripada segala yang kusebutkan pada paragraf sebelumnya. Kita adalah sepasang manusia yang sedang berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita. Melawan perasaan yang tersisa, bertengkar hebat dengan segala rasa yang bersontak-sontak di ulu hati, mencabuti sisa manis perasaan yang bertengger di jantung hingga hati. Kita lebih tepatnya seperti itu.
Kita, sepasang manusia penuh kepura-puraan. Dan kini kepura-puraanmu terlihat sudah habis. Aku juga akan demikian. Menghabiskan kepura-puraan itu, hingga bukan lagi berpura, tetapi berkenyataan. Aku dan perasaan itu sudah habis bukan lagi dengan pura-pura, tetapi dengan kenyataan.

0 Komentar