"Di dunia ini ada hal yang sedikit berharga, berharga, begitu berharga dan sangat-sangat-sangat berharga. Kau adalah berharga pada tingkatan terakhir yang kusebutkan tadi"
Jujur saja, aku masih tersesat. Antara mencintaimu dan tidak mencintaimu. Aku kadang masih mendapati diri tersenyum saat mengingatmu, juga kadang masih merindu ketika kau tak berkabar untuk waktu yang lama. Lebih dari itu, aku kadang sudah tak seterluka dulu ketika menyebut namamu sebagai cinta, juga kadang aku sudah tak menangis ketika mengingat bagaimana kau ke aku.
Jujur saja, aku kadang ingin mengganggumu. Melakukan panggilan telepon terus-menerus hingga kau merasa terusik. Agar kau tahu, bahwa dulu aku seterusik ini sebab kau yang mengakar, lalu menjalar di kepalaku.
Aku sudah pernah membawamu ke mana-mana. Di pikiranku, di hatiku, di jantungku, lalu kau memaksa untuk meminta hidup pada nadiku. Lantas aku harus bagaimana untuk membunuhmu jika itu juga bisa membuat diriku sendiri terbunuh?
Dan kali ini, aku sudah bertekad. Merapal mantra "melupakanmu adalah hal mudah" berkali-kali hingga mulutku berbusa. Tapi tak bisa. Kau masih lebih berharga daripada 'mantra melupakan' yang kuucapkan sepuluh ribu juta kali pun. Kau lebih berharga dari nadiku tempatmu melekat hingga sebenarnya bukan karena aku takut menyakiti diri sendiri, tapi lebih pada tak ingin kehilangan kamu. Kau lebih berharga dari luka-lukaku yang masih lebam, hingga aku masih terus saja menyakiti diri dengan mengingatmu meski setelahnya luka lebamku akan semakin bermunculan satu per satu. Kau lebih berharga. Sungguh lebih berharga daripada apa yang kusebut begitu berharga.

0 Komentar