Menghadapi Perpisahan

Menghadapi perpisahan itu...
Seperti hujan yang tidak kita harapkan jatuhnya karena terik yang begitu hangat. Seperti hidangan kopi yang aromanya tercium begitu nikmat, namun ketika tercicipi rasanya begitu pahit. Juga seperti langit yang semula berpelangi menawan tetiba berganti menjadi mendung yang kelam.

Menghadapi perpisahan itu...
Di dalamnya bisa saja ada seseorang yang bertekuk lutut memohon dan meronta pada jarum jam agar berputar berlawanan arah, agar kepergian seseorang, dapat menjadi kedatangan (kembali). Di dalamnya bisa saja ada seseorang yang di kepalanya selalu mengingat potongan kenangan ketika memandangi punggung seseorang yang semakin menjauh. Juga, di dalamnya bisa saja ada seseorang begitu sendu, memutar semua trek lagu tentang patah dan jatuh, lalu ia menafsir-nafsirkan sendiri bahwa lagu-lagu itu sengaja diciptakan untuknya.

Menghadapi perpisahan itu...
Adalah sesak dari sesak yang paling sesak yang pernah ada. Bagaimana tidak? Setelah berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun bersama seseorang, setelah bangun esok harinya kau harus menyadarkan diri (dengan sedikit paksaan) bahwa ia kini tak lagi ada untukmu. Karena semenyedihkan apapun, kenyataan tidak pernah mau bertoleransi terhadap perasaanmu.

Menghadapi perpisahan itu...
Hanya tentang membiasakan diri saja. Lebih tepatnya membawa kebiasaan-kebiasaan sebelum mengenal ia yang pergi. Hanya perlu mereset pola hidupmu sebelumnya. Ah, iya. Aku lupa! Mengatakan sesuatu memang jauh lebih mudah daripada menerapkannya.

Menghadapi perpisahan itu...
Adalah uji keikhlasan dan penerimaan yang tulus. Sebab bagaimanapun, setiap akhir perpisahan adalah awal dari pertemuan yang baru. Hey, bukankah kita yakin bahwa takdir Allah selalunya yang terbaik? Maka dari itu, ikhlaslah dengan penerimaan yang tulus. Sebab kutahu, rasa sakit dari perpisahan yang kau temui sebesar kadar ngiluku karena kehilangan Sugar.

Posting Komentar

0 Komentar