Kebodohan Kita

Kepada seseorang yang harus membaca surat ini.
Aku sudah paham bagian paling bodoh tentang kita. Maukah kau membacanya? Akan kujelaskan satu per satu bagian-bagian itu.

Kita tidak pernah bercerita segala hal yang masing-masing kita rasakan hingga tuntas.

Hingga akhirnya kita saling menyalahkan, seolah saling melukai. Padahal kita hanya tidak tahu saja masing-masing isi pikiran dan hati kita. Lalu, kesalahpahaman merajai kita.

Kita tidak pernah saling mengabari tentang resah dalam hidup kita.

Hingga akhirnya, meskipun kita berharap bisa saling menyemangati, kita malah terlihat saling tak acuh. Seolah tidak saling memedulikan satu sama lain. Padahal sebenarnya, aku berharap bisa sesekali menjadi tempatmu bersandar, meski kutahu kau adalah seseorang yang selalu ingin terlihat kuat. Aku selalu ingin menyemangatimu mengerjakan segala yang menjadi beban di pundakmu, juga resah tentang kesuksesan-kesuksesan yang ingin kau raih di masa depan.

Kita tidak pernah berusaha berjuang lebih keras satu sama lain.

Hingga akhirnya, setiap kali ada orang lain di sisi kita, kita selalu memutuskan mundur. Kita selalu menyerah memperjuangkan perasaan yang kita miliki. Seolah, kita masing-masing tak tahu bahwa dia atau siapapun itu tidak akan mengganti satu nama pada masing-masing hati kita; namamu di hatiku, namaku di hatimu.

Kita lebih sering berpura-pura bodoh, seolah tidak saling mengetahui apa yang kita ketahui.

Hingga akhirnya, apa yang masing-masing kita ketahui menguap begitu saja. Seolah apa yang kita ketahui adalah sebuah ketidaktahuan. Padahal, jika kita saling membicarakan segalanya, kita akan lebih kuat bersama. Termasuk luka pada masing-masing hati kita.

Kita lebih sering cemburu pada yang tak berhak kita cemburui.

Hingga akhirnya, pada siapapun yang datang seolah membuat kita gentar. Padahal, masing-masing hati kita sudah tahu, siapa yang paling mendominasi isi hatiku, juga isi hatimu.

Kita lebih sering berpura-pura tidak saling membutuhkan.

Hingga akhirnya saling terbiasa, meski itu menyalahi keinginan hati kita. Seolah jika rindu, kita tak butuh melepasnya dengan pertemuan atau sekadar percakapan singkat.

Kita ini lebih sering melakukan banyak hal yang bertentangan dengan masing-masing keinginan kita. Entah karena berusaha keras mulai saling melupakan, entah karena tidak ingin terlihat menjadi pihak yang paling menyedihkan.

Lalu, sampai pada titik ini, maukah kau bersepakat denganku? Mari berhenti untuk dengan keras memaksa diri saling melupakan pun berhenti memaksakan diri agar tidak terlihat menjadi pihak paling terluka. Sebab, kali ini aku sedang mengumpulkan kekuatan untuk kembali menujumu. Kali ini, biarkan aku yang datang padamu setelah kau yang berkali-kali datang untukku.

Maka kali ini, bersediakah kau memaafkanku dan membukakan pintumu sekali lagi untukku?

Posting Komentar

0 Komentar