Lelaki yang Kembali dengan Satu Tanya



Lelaki itu membangkitkan lagi kenangan yang sudah kukubur. Kenangan yang sudah menjadi tulang-belulang. Kenangan yang sengaja tidak kuberi nisan agar ia tak menemukannya. Tetapi ia menemukannya, entah dengan cara apa. Ia menemukannya, lalu menggali untuk diperlihatkan kembali padaku. Kenangan itu sudah lama membusuk dan melihatnya membuatku gemetar ketakutan.

“Aku masih menyimpan seribu kenangan itu di kepalaku. Mulai dari pertama mencoba menghubungimu, hingga kali terakhir perpisahan kita. Saat pertama kali mengirimimu pesan, aku berdebar hingga orang-orang di sekitarku seolah mendengar degup jantungku. Lalu, perihal perpisahan kita, aku punya banyak sekali hal yang ingin kujelaskan padamu. Aku mencari-cari kontakmu selama ini, dan itu butuh usaha keras dan waktu yang lama.”

Ia berbicara panjang-lebar. Entah kalimat mana yang harus kutanggapi terlebih dulu. Aku dan isi kepalaku sedang berkutat; “apa perlu kutanggapi ia?”. Belum sempat kubalas kalimatnya, ia kembali membuka pertanyaan kepadaku.

Ketika dihadapkan kembali dengan perasaan yang sama seperti dulu, apakah mungkin kau akan memberikan jawaban yang sama?

Di pikiranku, aku sudah punya jawaban pasti. Ketika dihadapkan dengan keadaan yang sama, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bukan dengan ‘perasaan yang sama’, tetapi dengan ‘keadaan yang sama’. Sebab mencintainya, aku tidak lagi bisa. Untuknya, perasaanku sudah mati bersama dengan kenangan yang kukubur dalam-dalam itu.

Posting Komentar

0 Komentar