Surat Untuk Tuan dari Nona yang Gagal Memahami

Selamat malam, Tuan!
Aku tak akan menanyakan kabarmu, sebab semalam yang lalu kita sempat bercakap semenit-dua menit. Kau baik-baik saja. Aku tahu itu. Dan aku juga baik-baik saja, Tuan. 

Lagi-lagi aku mengirimimu surat. Aku ingin menulis apa saja yang ada dalam kepalaku. Tetapi sebenarnya, hati dan pikiranku sedang riuh berkejar-kejaran menjawab satu tanya. 
Mengapa dulu meski saling mencintai kita tidak bisa bersama?
Aku sudah berkali-kali menanyakan hal itu kepada diriku sendiri; terlepas dari alasan bahwa katamu, kau sudah mencintai orang lain. Alasanmu itu menyakitkan, Tuan. Padahal kupikir kita baik-baik saja saat itu, tetapi tiba-tiba ada orang lain yang menyusup ke dalam hatimu. Sementara aku mengunci rapat hatiku dari orang-orang selain kamu. Baiklah, mari kita kembali kepada apa yang ingin kubahas saja, Tuan. 

Tuan, jika menurutmu aku adalah perempuan yang paling memahamimu (seperti pilihanmu pada tulisanku sebelum-sebelumnya), maka kamu salah besar. Nona memahamimu tidak sebaik yang kamu pikirkan. Nona hanya merasa memahamimu saja, hanya dalam perkataan, tidak dalam perlakuan. Maka apa istilah yang paling tepat untuk itu, Tuan? Aku tahu, tetapi tidak memahami. Kurasa, itulah istilah yang paling tepat.

Katamu, kau tak bisa memberi banyak perhatian seperti apa yang orang lain lakukan. Aku tahu, kau memang benar demikian. Aku hanya tahu saja, sebab kau kerap berlaku seperti itu (padaku). Aku tahu, tetapi aku tak memahamimu. Bahkan setelah kau katakan tidak bisa sebaik orang lain memberi perhatian, aku tetap ingin kau melakukannya. Iya, aku cukup egois. Aku tidak ingin kau hanya datang sesekali. Aku ingin kau ada setiap kali aku merasa begitu butuh dibuat tertawa olehmu. Aku ingin ketika rinduku sudah sampai di ubun-ubun aku mendengar suaramu atau membaca sapamu. Aku sebenarnya ingin bercerita banyak padamu setiap kali aku merasa sedih sebab lelah melawan deras arus takdir. Aku ingin menumpahkannya padamu, sebab aku ingin memercayaimu lebih daripada orang lain. Aku ingin memercayaimu lebih daripada orang lain karena aku mencintaimu. Tetapi kau lebih sering tak hadir lalu aku menjadi terbiasa menyimpan segalanya sendirian.

Aku tahu, Tuan. Sebenarnya juga cukup sulit bagimu memenuhi inginku (yang tak pernah sampai padamu) itu. Sebab kau adalah lelaki yang sejak awal memang punya kepribadian seperti itu. Kau hanya datang kadang-kadang. Sementara dulu, ketika kehidupan rasanya begitu sulit, aku berharap kau selalu ada. Ketika bercakap denganmu, aku menjadi seribu kali lebih baik meski tanpa kuceritakan keluhku. Keberadaanmu mampu mengisi daya senyumku agar tertawa hingga lupa kesahku. Namun kini, aku kerap menyesali diriku sendiri sebab tidak memahamimu dengan baik.

Terlepas dari rasa kecewaku sendiri, Tuan, aku tahu kau juga banyak kecewa terhadapku. Hanya saja, aku tak banyak tahu, sebab kita tidak pernah berbicara sejauh itu. Kita selalu menyimpan segalanya sendiri, inilah hal paling buruk yang kita lakukan; kita tidak banyak terbuka.

Tuan, apa kau masih membaca? Aku mulai menulis surat ini hampir tiga puluh menit yang lalu. Menuliskan surat ini, aku lebih banyak berpikir; apa saja yang sebaiknya kusampaikan padamu.

Boleh kutanya kau, Tuan? Apakah jika dulu aku memahamimu dengan baik, kita bisa mempertahankan apa yang seharusnya kita pertahankan? Apakah kau lebih suka aku menunggu kabarmu saja? Apakah kau lebih suka aku menghubungimu lebih dulu? Atau apakah sebaiknya kukatakan saja padamu bahwa aku butuh keberadaanmu sedikit-lebih-banyak kadarnya dari itu? Jangan salah paham dulu, Tuan! Aku hanya penasaran ingin tahu, aku seharusnya berbuat apa di masa itu. Tidak lebih dari itu, karena kisah kita sudah berakhir, dan aku sudah benar-benar ingin mengakhirinya. Itulah mengapa aku menulis surat ini.

Ketika kupikirkan lagi, Tuan. Sepertinya kita masih punya banyak hal yang menjadi alasan-alasan ketidakbersamaan kita. Hal kedua yang membuatmu merasa paling cemas ketika bersamaku; tulisanku yang berisi kenangan tentang orang lain. Maafkan aku, kau pasti sudah merasa sangat jenuh menghadapiku, Tuan.

Kau mencemburui kenangan, Tuan. Aku suka kau cemburu, tetapi cemburumu itu salah. Apa yang patut kau cemburui pada kenangan, sementara kau hidup di masa sekarangku (pada saat itu)? Padanya, kau takkan pernah kalah. Bersamanya, aku banyak kenangan. Bersamamu, aku banyak perasaan dan kenangan (yang setidaknya hingga saat kita berakhir).

Sebenarnya, aku juga cemburu padamu. Aku cemburu pada perempuan-perempuan di sekelilingmu. Aku juga bahkan cemburu kepada perempuan yang baru saja menyadari perasaannya untukmu. Aku cemburu ketika kau dan ia kadang saling memanggil dengan panggilan khas kalian berdua. Seolah ketika aku berada di tengah-tengah kalian, aku hanya tokoh pendukung dalam kisah kita. Setiap kali kau dan ia bersama, aku ingin berubah menjadi perempuan itu. Aku ingin menjadi banyak bicara untukmu, aku ingin memintamu agar tidak berlebihan ketika bersamanya. Aku ingin tanpa segan memintamu untuk tidak berlaku ini dan itu bersamanya, setidaknya di depan mataku. Apakah rasa cemburuku sama besarnya dengan yang kau miliki?

Tuan, apa kau masih menyimak? Suratku sudah keterlaluan panjang dan menyita banyak waktumu. Biar kutebak, bola matamu sudah kepayahan bergulir membacanya, tetapi kau penasaran ingin membacanya hingga habis. Apakah tebakanku benar, Tuan?

Kulanjutkan lagi, ya, Tuan. Mau keberitahu satu hal? Mungkin akan lebih terdengar seperti alasan, tetapi inilah kenyataan yang belum sampai padamu. Kita tidak pernah jalan berdua saja, tetapi aku merasa selalu memilikimu. Aku tiba-tiba teringat sebuah ikrar yang kugumamkan ketika masih kecil dulu. Ketika pertama kali melihatmu amat-sangat dekat, kukatakan dalam hatiku, aku akan menikah dengannya dewasa nanti. Kupikir, itulah hal absurd yang melekat hingga membuatku merasa selalu memilikimu. Padahal sejatinya, kita memang tidak pernah saling memiliki meski pernah bersama, bukan?

Adalah hal yang lucu bagiku, Tuan. Kita bersatu saat (terlihat) tidak punya cinta yang begitu besar, sementara saat mencintai sejadi-jadinya kita tidak pernah bersatu. Perasaan kita dikutuk. Dan betapa bedebahnya, tersangka yang mengutuknya adalah diri kita sendiri. 

Suratku sudah demikian membabat habis waktumu, Tuan. Aku akan menutupnya. Bacalah hingga titik terakhirnya, ya! 

Saat ingin menutup surat ini, aku tetiba teringat lagi rencana-rencana masa depanmu yang pernah kau ceritakan melalui panggilan telepon. Katamu, kau akan menyelesaikan studimu, lalu bekerja seraya kembali melanjutkan studimu ke jenjang yang lebih tinggi. Kala itu, aku membatin “aamiin” banyak-banyak. Kini, studimu sudah hampir selesai dan kau akan sibuk menyelesaikannya. Waktumu akan banyak terseret untuk itu. 

Tuan, tetaplah menjaga kesehatanmu, pola makanmu, termasuk pola tidurmu yang membuatku khawatir. Kau selalu menggadaikan waktu tidurmu, dan itulah salah satu alasan besar mengapa aku juga melakukannya. Aku ingin tahu keadaanmu tanpa harus mengganggumu. Aku tidak tahu bagaimana harus kutanyakan kabarmu secara langsung. Aku merasa tidak berhak sebab kita bukan siapa-siapa lagi. Memang benar apa kata orang, yang awalnya sekadar berteman lalu memutuskan bersama selama beberapa waktu, kemudian berakhir, akan selalu sulit membangun kembali pertemanan seperti sedia kala. Dan Nona ini, Tuan, sudah lupa bagaimana cara menyapamu sebagai ‘teman yang biasa saja’.

Jadi, Tuan. Aku ingin kau memerhatikan kesehatanmu baik-baik, juga memiliki istirahat yang cukup. Perihal studimu, aku tahu kau akan menyelesaikannya dengan baik, sebab kau adalah Tuan yang kukenal. Menyemangatlah, Tuan! Akan kupeluk kau dengan lengan-lengan doaku. Semoga kau selalu merasa hangat dalam dekapan doaku. 

Maafkan aku, Tuan. Aku menjadi batu sandungan hubungan kita yang tidak berhasil. Kuharap, aku dan kamu banyak belajar dari kegagalan mempertahankan ‘kita’. 

Bersama surat ini, Tuan, ini adalah kali terakhir kupanggil kau dengan sebutan Tuan. Maka, Tuan, kuharap kau tidak hanya mengingat hal buruk tentang kita, juga tentangku. Semoga bagian-bagian yang baik dari kenangan kita lebih banyak mendominasi isi kepala dan hatimu. Terima kasih atas segalanya, Tuan.


Dari aku, 

Nona yang gagal menjadi putri menantu ibumu.

Posting Komentar

0 Komentar