Aku tak akan menanyakan kabarmu, sebab semalam
yang lalu kita sempat bercakap semenit-dua menit. Kau baik-baik saja. Aku tahu
itu. Dan aku juga baik-baik saja, Tuan.
Lagi-lagi aku mengirimimu surat. Aku ingin menulis apa saja yang ada dalam kepalaku. Tetapi sebenarnya, hati
dan pikiranku sedang riuh berkejar-kejaran menjawab satu tanya.
Mengapa dulu meski saling mencintai kita tidak bisa bersama?
Aku sudah berkali-kali menanyakan hal itu kepada
diriku sendiri; terlepas dari alasan bahwa katamu, kau sudah mencintai orang
lain. Alasanmu itu menyakitkan, Tuan. Padahal kupikir kita baik-baik saja saat
itu, tetapi tiba-tiba ada orang lain yang menyusup ke dalam hatimu. Sementara
aku mengunci rapat hatiku dari orang-orang selain kamu. Baiklah, mari kita
kembali kepada apa yang ingin kubahas saja, Tuan.
Tuan, jika menurutmu aku adalah perempuan yang
paling memahamimu (seperti pilihanmu pada tulisanku sebelum-sebelumnya), maka
kamu salah besar. Nona memahamimu tidak sebaik yang kamu pikirkan. Nona hanya
merasa memahamimu saja, hanya dalam perkataan, tidak dalam perlakuan. Maka apa
istilah yang paling tepat untuk itu, Tuan? Aku tahu, tetapi tidak memahami.
Kurasa, itulah istilah yang paling tepat.
Katamu, kau tak bisa memberi banyak perhatian
seperti apa yang orang lain lakukan. Aku tahu, kau memang benar demikian. Aku
hanya tahu saja, sebab kau kerap berlaku seperti itu (padaku). Aku tahu, tetapi
aku tak memahamimu. Bahkan setelah kau katakan tidak bisa sebaik orang lain
memberi perhatian, aku tetap ingin kau melakukannya. Iya, aku cukup egois. Aku
tidak ingin kau hanya datang sesekali. Aku ingin kau ada setiap kali aku merasa
begitu butuh dibuat tertawa olehmu. Aku ingin ketika rinduku sudah sampai di
ubun-ubun aku mendengar suaramu atau membaca sapamu. Aku sebenarnya ingin
bercerita banyak padamu setiap kali aku merasa sedih sebab lelah melawan deras
arus takdir. Aku ingin menumpahkannya padamu, sebab aku ingin memercayaimu
lebih daripada orang lain. Aku ingin memercayaimu lebih daripada orang lain
karena aku mencintaimu. Tetapi kau lebih sering tak hadir lalu aku menjadi
terbiasa menyimpan segalanya sendirian.
Aku tahu, Tuan. Sebenarnya juga cukup sulit
bagimu memenuhi inginku (yang tak pernah sampai padamu) itu. Sebab kau adalah
lelaki yang sejak awal memang punya kepribadian seperti itu. Kau hanya datang
kadang-kadang. Sementara dulu, ketika kehidupan rasanya begitu sulit, aku
berharap kau selalu ada. Ketika bercakap denganmu, aku menjadi seribu kali lebih
baik meski tanpa kuceritakan keluhku. Keberadaanmu mampu mengisi daya senyumku
agar tertawa hingga lupa kesahku. Namun kini, aku kerap menyesali diriku
sendiri sebab tidak memahamimu dengan baik.
Terlepas dari rasa kecewaku sendiri, Tuan, aku
tahu kau juga banyak kecewa terhadapku. Hanya saja, aku tak banyak tahu, sebab
kita tidak pernah berbicara sejauh itu. Kita selalu menyimpan segalanya
sendiri, inilah hal paling buruk yang kita lakukan; kita tidak banyak terbuka.
Tuan, apa kau masih membaca? Aku mulai menulis
surat ini hampir tiga puluh menit yang lalu. Menuliskan surat ini, aku lebih
banyak berpikir; apa saja yang sebaiknya kusampaikan padamu.
Boleh kutanya kau, Tuan? Apakah jika dulu aku memahamimu dengan baik, kita bisa mempertahankan apa yang seharusnya kita pertahankan? Apakah kau lebih suka aku menunggu kabarmu saja? Apakah kau lebih suka aku menghubungimu lebih dulu? Atau apakah sebaiknya kukatakan saja padamu bahwa aku butuh keberadaanmu sedikit-lebih-banyak kadarnya dari itu? Jangan salah paham dulu, Tuan! Aku hanya penasaran ingin tahu, aku seharusnya berbuat apa di masa itu. Tidak lebih dari itu, karena kisah kita sudah berakhir, dan aku sudah benar-benar ingin mengakhirinya. Itulah mengapa aku menulis surat ini.
Ketika kupikirkan lagi, Tuan. Sepertinya kita
masih punya banyak hal yang menjadi alasan-alasan ketidakbersamaan kita. Hal
kedua yang membuatmu merasa paling cemas ketika bersamaku; tulisanku yang
berisi kenangan tentang orang lain. Maafkan aku, kau pasti sudah merasa sangat
jenuh menghadapiku, Tuan.
Kau mencemburui kenangan, Tuan. Aku suka kau
cemburu, tetapi cemburumu itu salah. Apa yang patut kau cemburui pada kenangan,
sementara kau hidup di masa sekarangku (pada saat itu)? Padanya, kau takkan
pernah kalah. Bersamanya, aku banyak kenangan. Bersamamu, aku banyak perasaan
dan kenangan (yang setidaknya hingga saat kita berakhir).
Sebenarnya, aku juga cemburu padamu. Aku cemburu
pada perempuan-perempuan di sekelilingmu. Aku juga bahkan cemburu kepada
perempuan yang baru saja menyadari perasaannya untukmu. Aku cemburu ketika kau
dan ia kadang saling memanggil dengan panggilan khas kalian berdua. Seolah
ketika aku berada di tengah-tengah kalian, aku hanya tokoh pendukung dalam kisah
kita. Setiap kali kau dan ia bersama, aku ingin berubah menjadi perempuan itu.
Aku ingin menjadi banyak bicara untukmu, aku ingin memintamu agar tidak
berlebihan ketika bersamanya. Aku ingin tanpa segan memintamu untuk tidak berlaku ini
dan itu bersamanya, setidaknya di depan mataku. Apakah rasa cemburuku sama besarnya dengan yang kau miliki?
Tuan, apa kau masih menyimak? Suratku sudah
keterlaluan panjang dan menyita banyak waktumu. Biar kutebak, bola matamu sudah
kepayahan bergulir membacanya, tetapi kau penasaran ingin membacanya hingga
habis. Apakah tebakanku benar, Tuan?
Kulanjutkan lagi, ya, Tuan. Mau keberitahu satu
hal? Mungkin akan lebih terdengar seperti alasan, tetapi inilah kenyataan yang
belum sampai padamu. Kita tidak pernah jalan berdua saja, tetapi aku merasa
selalu memilikimu. Aku tiba-tiba teringat sebuah ikrar yang kugumamkan ketika
masih kecil dulu. Ketika pertama kali melihatmu amat-sangat dekat, kukatakan
dalam hatiku, aku akan menikah dengannya dewasa nanti. Kupikir, itulah
hal absurd yang melekat hingga membuatku merasa selalu memilikimu.
Padahal sejatinya, kita memang tidak pernah saling memiliki meski pernah
bersama, bukan?
Adalah hal yang lucu bagiku, Tuan. Kita bersatu
saat (terlihat) tidak punya cinta yang begitu besar, sementara saat mencintai
sejadi-jadinya kita tidak pernah bersatu. Perasaan kita dikutuk. Dan betapa
bedebahnya, tersangka yang mengutuknya adalah diri kita sendiri.
Suratku sudah demikian membabat habis waktumu,
Tuan. Aku akan menutupnya. Bacalah hingga titik terakhirnya, ya!
Saat ingin menutup surat ini, aku tetiba teringat
lagi rencana-rencana masa depanmu yang pernah kau ceritakan melalui panggilan
telepon. Katamu, kau akan menyelesaikan studimu, lalu bekerja seraya kembali
melanjutkan studimu ke jenjang yang lebih tinggi. Kala itu, aku membatin “aamiin” banyak-banyak. Kini, studimu
sudah hampir selesai dan kau akan sibuk menyelesaikannya. Waktumu akan banyak
terseret untuk itu.
Tuan, tetaplah menjaga kesehatanmu, pola makanmu,
termasuk pola tidurmu yang membuatku khawatir. Kau selalu menggadaikan waktu
tidurmu, dan itulah salah satu alasan besar mengapa aku juga melakukannya. Aku
ingin tahu keadaanmu tanpa harus mengganggumu. Aku tidak tahu bagaimana harus
kutanyakan kabarmu secara langsung. Aku merasa tidak berhak sebab kita bukan
siapa-siapa lagi. Memang benar apa kata orang, yang awalnya sekadar berteman lalu memutuskan bersama selama beberapa waktu, kemudian
berakhir, akan selalu sulit membangun kembali pertemanan seperti sedia kala. Dan
Nona ini, Tuan, sudah lupa bagaimana cara menyapamu sebagai ‘teman yang biasa
saja’.
Jadi, Tuan. Aku ingin kau memerhatikan
kesehatanmu baik-baik, juga memiliki istirahat yang cukup. Perihal studimu, aku
tahu kau akan menyelesaikannya dengan baik, sebab kau adalah Tuan yang kukenal.
Menyemangatlah, Tuan! Akan kupeluk kau dengan lengan-lengan doaku. Semoga kau
selalu merasa hangat dalam dekapan doaku.
Maafkan aku, Tuan. Aku menjadi batu sandungan
hubungan kita yang tidak berhasil. Kuharap, aku dan kamu banyak belajar dari
kegagalan mempertahankan ‘kita’.
Bersama surat ini, Tuan, ini adalah kali terakhir kupanggil kau dengan sebutan Tuan. Maka, Tuan, kuharap kau tidak hanya mengingat hal buruk tentang kita, juga tentangku. Semoga bagian-bagian yang baik dari kenangan kita lebih banyak mendominasi isi kepala dan hatimu. Terima kasih atas segalanya, Tuan.
Dari aku,
Nona yang gagal menjadi putri menantu ibumu.

0 Komentar