Dua Kecintaan, Beda Takaran.

Aku
Aku suka
Aku suka buku
Aku suka buku dan
Aku suka buku dan kamu

Aku baru saja menuntaskan sebuah buku puisi milik M. Aan Mansyur-- Tidak Ada New York Hari Ini pada hari ini. Terlalu terlambat, memang. Kemarin, aku masih menggantung pada halaman ke-201 dalam ide brilian Jostein Gaarder; Dunia Shopie. Buku itu menarik, amat-sangat menarik. Aku hanya tak punya waktu luang untuk menuntaskannya. Sebenarnya, itu adalah alasan kedua. Alasan pertama adalah aku masih berupaya membiasakan diri untuk membaca novel berat yang sepertinya cukup mampu membuat otakku berdarah-darah-- berliter-liter. Dunia Shopie adalah novel filsafat yang akan mengajakmu berpetualang dengan penalaran-penalaran menarik yang mestinya kamu pikirkan, tetapi kamu tidak melakukannya.

Aku suka menafsirkan isi dari tulisan penulis. Meski aku tak mampu menafsirkan dengan sempurna. Seseorang pernah berkata seperti ini: "Yang mampu memahami makna tulisan secara utuh adalah hanya penulisnya sendiri". Ya, dan aku sepakat. Pembaca adalah penafsir melalui jiwanya sendiri. Sedangkan jiwa inilah yang sebagai dunianya akal, begitu kira-kira menurut Plato, seorang filsuf terkemuka dengan teori idealismenya. Jadi, dalam menafsirkan sebuah tulisan, pembaca menafsirkan berdasarkan jiwanya lalu menuju ke akal, seberapa besar ia mengizinkan penulis memengaruhi jiwanya atau seberapa besar hatinya tergerus ketika membaca tulisan itu adalah berbanding lurus dengan hasil penafsirannya.

Aku suka buku. Ketika membaca buku yang salah satunya adalah novel romantis, ada beberapa alur yang sepertinya sedang sengaja membicarakan kisahku. Juga, kerap kali kutemukan kutipan-kutipan yang mengarah kepada sosok 'kamu' yang akan kutuliskan pada paragraf berikutnya.

Aku suka buku dan mencatat beberapa kalimat yang di dalamnya mengandung kalimat yang mengajarkan, kalimat yang menguatkan, serta kalimat yang paling pedih di muka bumi. Kalimat-kalimat itu bertugas banyak hal dalam hidup. Mereka menguak sisi kedewasaan, membakar semangat, hingga menaburi lagi garam di atas luka. Buku memang seperti itu, ia akan menyeret kisahmu yang paling dalam hingga kau merasa kosong, lalu mengisinya lagi dengan segala hal yang baik tanpa sepotong-sepotong.

Aku suka buku dan kamu. Membaca kamu yang ada di dalamnya akan membuatku lebih mencintai buku itu-- dan kamu. Buku yang ada kamu di dalamnya, kerap mengejawantah dalam tokoh-tokoh yang bukan kamu, tetapi tokoh-tokoh itu hidup sebagai kamu. Mereka memainkan peran sebagai kamu, lalu membuatku jatuh cinta lagi; padamu dan pada buku itu. Tokoh-tokoh yang sebagai kamu itu kerap memainkan banyak peran dan banyak alur pada tokoh perempuan utama, melukainya, membahagiakannya, tidak mengacuhkannya, menjadikannya segalanya, menjauhinya, mendekatinya, meninggalkannya, hingga bertekad mencintai sesisa hidupnya.

Aku menyukai buku, aku mencintai buku, tetapi aku jauh lebih menyukai dan mencintaimu. Kau tahu itu, kan?

Posting Komentar

0 Komentar