Aku dan Perempuan dalam Cermin Lagi (3)

"Hy, selama ini apa kabar?"
"Kamu tumben muncul, dan ya, aku baik-baik saja. Sangat baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
"Selama kau baik-baik saja, sudah pasti aku juga demikian."
"Hmm, ya. Aku tak berpikir ke sana. Kau tak pernah muncul tanpa alasan. Ada apa kali ini?"
"Kudengar, kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat."
"Apa itu?"
"Sesuatu -- ah, tidak, maksudku seseorang."
"Siapa?"
"Seseorang yang pernah ingin kau lupakan setengah mati."
"Lelaki itu?"
"Ya, tepat. Sebab aku adalah kau, aku tahu siapa yang sedang ada dalam pikiranmu ketika mengucapkan frase 'lelaki itu'."
"Benar, aku melihatnya. Hanya beberapa foto di media sosialnya. Dan kali ini benar-benar bukan keinginanku."
"Aku tahu itu. Jadi bagaimana perasaanmu?"
"Aku baik-baik saja, tentu saja. Apa aku harus merasa sesak (lagi) hanya karena melihatnya?"
"Tentu saja, (seharusnya) tidak. Ia bersama perempuan yang baru. Itu maksudku. Jadi, kau tidak merasa ada yang 'aneh' dalam dirimu sekalipun melihat mereka berdua?"
"Aneh? Raut wajahmu seolah menginginkan rasa ketidakbahagiaanku. Kurasa pertanyaan ini akan menjawab segalanya; 'apa aku harus merasa tidak bahagia melihat kebahagiaan orang lain?'"
"Apa kau baru saja mengatakan 'orang lain'? Kuamati, matamu juga tak lagi bergetar seperti terakhir kali ketika bercerita tentang lelaki itu."
"Aku tak paham tentang diriku sendiri, tetapi melihat mereka berdua, aku bahkan mendapati diriku sendiri tersenyum kecil. Aku tak dapat menyimpulkan, tetapi kurasa ungkapan 'time heals everything' memang benar."
"Aku suka kamu yang seperti ini. Kau sudah harus bertemu orang baru."
"Nanti saja. Aku masih suka sendiri. Menikmati buku-buku yang belum tuntas kubaca."
"Sepenuhnya, hak itu ada padamu. Maka nikmati saja waktumu. Apa kau tidak berencana untuk jatuh cinta (lagi)?"
"Kurasa jatuh cinta bukan sesuatu yang bisa kita rencanakan. Bukan sesuatu yang bisa kita atur sedemikian rupa. Bukan juga sesuatu yang bisa kita kendalikan semau kita."
"Jadi, kau sama sekali tidak berencana jatuh cinta lagi?"
"Dan lagi, kurasa, itu bukan sesuatu yang aku butuhkan sekarang."
"Tetapi jantungku berdebar ketika aku menyebutkan kata 'cinta'. Sebab aku adalah kamu, kupikir ini adalah ulah dari debaran jantungmu."
"Entahlah. Aku sudah mencintainya berkali-kali. Berupaya melupakannya, lalu mencintainya lagi. Mencintainya lagi, lalu berupaya melupakannya lagi. Begitu seterusnya. Seolah itu adalah siklus hidup untuk bertahan dalam belantara perasaanku sendiri. Jadi, jika kau bertanya aku sedang berada pada posisi yang mana, aku sendiri tak tahu jawabannya. Entah berupaya melupakannya lagi, atau mencintainya lagi."
"Deiksis '-nya' itu siapa?"
"Seseorang-- yang mengajarkanku bahwa hujan itu romantis dan petrichor itu menyejukkan."
"Kau mencintainya, bukan?"
"Aku tak tahu. Jangan membahas soal perasaan lagi, aku sudah lelah dengan hal-hal seperti itu."
"Baiklah, aku menyerah. Istirahat saja. Kau berhak memilih yang baik. Pilihanmu yang baik adalah pilihanku yang baik juga. Sebab, sekali lagi, aku adalah kamu."
"Ya, aku adalah kamu. Kamu adalah aku yang sibuk menduplikasi seluruhku. Dan, ya, nyatanya memang kamu adalah aku."
"Ya, kamu adalah aku"

Posting Komentar

0 Komentar