Aku ingin ia melihatku seperti caraku melihatnya.
Kulihat lagi ia. Berkali-kali. Mataku sempat bertemu matanya. Mataku mengisyaratkan cinta, tetapi tatapannya yang mengarah padaku kosong melompong. Ia melihatku tanpa memikirkan dan merasakan apa-apa.
Sama seperti mencintainya, aku juga berharap ia mencintaiku.
Aku sudah paham perasaanku. Kusangkal lagi, berkali-kali. Tetapi satu-satunya jawaban yang kutemukan adalah kebenaran tentang perasaan itu sendiri. Aku mencintainya. Itulah jawaban yang sebenarnya. Aku mencoba mencari tahu tentangnya, membaca semua guratan aksara di media sosialnya. Tetapi tak kutemukan satu pun yang menyangkut aku di dalamnya.
Kuharap doaku adalah doanya, semoga saja semoga yang kusemogakan adalah semoganya juga.
Dalam rapal doaku, namanya ada. Ia adalah salah satu tokoh utama di dalamnya. Sebuah kisah fiksi yang kusemogakan agar hidup di masa depan. Kuharap, di masa depan, doanya adalah doa yang turut kuaminkan pada satu shaf di belakangnya. Tetapi kupikir aku bukan menjadi salah satu tokoh yang disebutkan dalam tengadah tangannya. Tidak sebagai tokoh utama, tidak pula sebagai tokoh pendukungnya. Aku bukan siapa-siapa di dalam semoganya.
Bahkan kulatih menyimpul senyumku sering-sering, agar dapat kulihat ia membalas senyumku dengan sama bahagianya aku.
Aku menyimpul senyumku banyak-banyak untuknya. Setiap kali perjumpaan itu hadir, aku menyimpulnya. Tetapi ia hanya membalas dengan senyum tipis-tipis, sedetik-dua detik. Baginya, senyum yang kuupayakan itu tidak ada apa-apanya.
Lalu, aku memutuskan menyerah saja. Ia, adalah awan yang tak mungkin kugenggam. Bintang yang tak dapat kudekap. Laut yang takkan bisa kuarungi. Ia seperti itu. Sebab, ia selalu membawa dirinya pergi ketika aku hampir saja mencapai langit. Ia selalu membunuh cahayanya agar tak terlihat ketika aku berupaya memetiknya. Dan ia selalu menggelombangkan ombaknya setinggi mungkin untuk mencegah keberangkatanku. Ia sudah banyak memberi isyarat, ia tak ingin aku.

0 Komentar