Sebuah Surat Untuk Lelaki Masa Depan

Selamat pagi! Atau selamat siang? Atau selamat sore? Atau selamat malam? Atau bahkan selamat dini hari? Aku tak tahu harus menyapa dalam bentuk waktu apa. Hari ini adalah hari Senin, 25 April 2017. Aku menulis suratku hari ini dan tak tahu kapan tepatnya kamu akan membacanya. Entah pada tahun berapa aksara-aksara dalam tulisan ini dijerat oleh sepasang bola matamu.

Entah kapan, dan entah siapa. Kamu, entah siapa. Aku bahkan tak tahu. Aku sedang menulis sebuah surat buta. Tetapi meski tanpa tahu tujuan surat ini, aku tetap menulis. Aku sedang mengira-ngira, siapa kiranya lelaki yang menjadi penjamin lengkapnya tulang rusukku. Apakah kamu seseorang yang baru? Apakah kita bukan seseorang yang pernah bertemu sebelumnya? Atau bisa saja, kamu adalah bagian dari masa laluku.

Aku tidak tahu kapan, juga tidak tahu siapa. Selain dari kedua ketidaktahuanku itu, aku punya satu ketidaktahuan lagi. Mengapa. Mengapa kamu? Tentu saja, ini adalah bentuk puzzle terbesar yang Tuhan rancang untuk kita. Alasan mengapa kita adalah sepasang yang dipertemukan.
Jika kamu adalah lelaki yang irit sekali bicaranya, maka mungkin karena aku adalah perempuan yang terlalu boros bicaranya.
Jika kamu adalah lelaki yang begitu tenang, maka mungkin karena aku adalah perempuan yang tidak bisa duduk dengan diam dan tenang.
Jika kamu adalah lelaki yang sulit sekali mengatur barang-barangmu dengan baik, maka mungkin karena aku adalah perempuan yang akan menyimpan segala sesuatu kembali kepada letaknya semula.
Jika kamu adalah lelaki yang pandai dalam hal hitung-menghitung, maka mungkin karena aku adalah perempuan yang sangat bebal perihal perhitungan.
Jika kamu adalah lelaki yang pandai mengatur emosi, maka mungkin karena aku yang sulit sekali menekan rasa kecewa dan terlalu melankolis.
Jika kamu adalah lelaki yang kuat sekali sistem imunitasnya, maka mungkin karena aku adalah perempuan yang memiliki sistem imunitas yang lemah sehingga kau bisa menjagaku.
Jika kamu adalah lelaki yang tegas, maka mungkin karena aku adalah perempuan yang sulit menetap pada satu hal dengan tegas.
Jika kamu adalah lelaki yang pandai membujuk, maka mungkin saja karena aku adalah perempuan yang mudah merajuk.
Segala tebakan mengalir deras dalam kepalaku. Entah bagian mana yang benar. Apakah benar kita berdua adalah sepasang positif dan negatif yang saling melengkapi? Entah.

Jadi, perihal kapan kau akan membacanya, siapa kamu, dan mengapa kamu, aku masih belum tahu. Tentu saja aku tak tahu. Tuhan masih menggenggam garis takdir itu dan akan meniupnya jatuh tepat di depan kita pada waktu yang telah ditentukan-Nya. Siapapun kamu, bagiku adalah yang terbaik. Semoga bagimu, aku juga demikian.

Selamat bertemu denganku! Mari berbahagia, menangis, tertawa, bersedih, terluka, dan  berpegangan erat bersama! Semoga kita adalah sepasang kuat yang saling menguatkan.

Dari aku, perempuan masa depanmu. Ah, jika kau membacanya sekarang, maka aku sudah menjadi perempuan masa sekarangmu sekaligus masa depanmu selamanya.

Posting Komentar

0 Komentar