"Terkadang bukan karena seseorang sangat tertutup hingga ia tak pernah menceritakan segala keluh kesahnya. Terkadang, ia sebenarnya ingin bercerita, tapi belum menemukan tempat yang (menurutnya) tepat"
Aku menuliskan kutipan itu beberapa hari yang lalu. Menuliskannya, aku banyak berpikir. Kau pasti sudah paham siapa subjek 'ia' dalam kutipanku itu.
Meski kemarin aku telah memutuskan untuk memikirkanmu dengan kadar yang biasa-biasa saja, aku malah masih tetap memikirkanmu dengan kadar yang luar biasa. Membuat diriku paham akan kamu, sikapmu, hatimu.
Hingga kemarin, aku merasa cukup egois. Memandang diri sebagai satu-satunya yang tertusuk belati di ulu hati. Berpikir bahwa limpahan darah pada pakaian yang kau kenakan adalah bekas resapan darah dari pakaianku selepas kau memelukku. Nyatanya, di dadamu bekas tusukan menganga lebar. Mataku tak cukup jeli memerhatikan genangan darah pada pakaianmu yang membuatnya kuyup jauh lebih daripada yang kukenakan.
Hingga kemarin, aku sebegitu egoisnya, Tuan. Kupikir aku adalah pihak yang paling terluka atas keberadaan kita. Mencintaimu kemarin, kupikir hanya aku yang terluka. Ternyata, mencintaiku kemarin kau lebih luka.
Jadi, Tuan...
Mulai hari ini, aku akan belajar menerima segala wujud diammu. Sebab kupikir wujud diammu adalah bekas luka. Kau tak ingin berbicara sebab khawatir jahitanmu yang baru saja kering akan kembali basah. Aku mulai paham satu hal itu. Satu hal yang sejak kemarin sudah seharusnya kupahami.
Selain itu, Tuan, kemarin pikiranku beranak pinak. Selain menyadari betapa egoisnya aku, aku juga paham bahwa kepadaku kau tak pernah nyaman membahas lukamu. Aku sedikit kecewa, Tuan, merasa terasingkan. Tapi kali ini aku ingin kau berbahagia. Berceritalah pada siapa saja yang kau merasa nyaman dengannya. Jika bukan denganku, kecewaku sudah pasti ada. Hanya saja, rasa kecewaku kepada perempuan egois yang sedang menulis untukmu ini jauh lebih buruk.
Maafkan aku, Tuan. Sebab ternyata lebih dari kamu, tanpa sadar aku sering memainkan ujung belati di dadamu. Membuatmu berdarah-darah padahal tak pernah tahu cara menyembuhkannya, juga tak pernah pandai menuntun perihmu bercerita dan beryemu dengan perih yang kumiliki juga.
Maafkan aku, Tuan
Aku sudah tahu bahwa aku bukan perempuan yang tepat di sisimu, tapi aku masih saja tetap memaksa diri menunggu. Kali ini, Tuan. Menjadilah egois sepertiku. Jika kau temukan seseorang yang dengannya kau tanpa dituntun akan menceritakan perihmu, kau harus bersamanya. Aku tahu, perempuan egois ini tak cukup pantas untuk dipersatukan dengan lelaki baik sepertimu.
Dari Perempuan Egois Kepada Lelaki yang Takut Bercerita

0 Komentar