Selalu Aku

Ada aku, di bawah rintik hujan, berdiri sendiri. Selalu menjadi basah karena menunggumu membawa payungmu untukku.

Mengapa harus selalu aku?
Yang kehujanan sikapmu yang dingin dan menggigil berlebihan. Selalu aku yang bersabar menantimu berubah menjadi hangat dan kembali menyapa dengan kalimat yang tenang.

Mengapa harus selalu aku?
Yang harus menggali tanah, mengubur diri, bersembunyi saat kau sedang tak ingin ada aku. Dan hanya boleh hadir di hadapanmu saat moodmu membaik.

Mengapa harus selalu aku?
Mengapa harus selalu aku yang khawatir menunggu kabarmu setiap hari. Berharap jika saja, ponselku yang berbunyi membawa kabarmu. "Signal di kamarku cukup baik, ponselku tak rusak". Selalu aku yang berpikir demikian. Selalu aku yang tertidur menunggu pesanmu, menunggu kabarmu, merindukan suaramu.

Mengapa harus selalu aku?
Yang harus menerjemahkan diammu. Menafsirkan arti di balik perasaanmu yang demikian bungkam. Memahamimu, aku buta. Pikiranku buntu.

Mengapa harus selalu aku?
Yang selalu harus menyesuaikan diri dengan moodmu. Tanpa kau ingin paham bagaimana aku, perasaanku. Tanpa kau setetespun tak tersuntik oleh rasa penasaran untuk ingin tahu apakah aku sedang pilu, bahagia, setengah terluka, setengah tersenyum.

Mengapa harus selalu aku?
Mengapa harus selalu aku yang terluka saat mendapatimu telah bersama yang lain. Beberapa kali. Tidak sekali-dua kali saja. Berkali-kali. Hingga hatiku lebam, lalu lebam, kemudian lebih lebam lagi. Menjadi lebam seluruhnya.

Mengapa harus selalu aku?
Harus selalu aku yang bertoleransi dengan datang dan pergimu yang tanpa persiapan itu? Datangmu membangkitkan bahagiaku, bersamaan dengan itu lukaku juga kian meradang. Sebab darimu, selalu aku yang harus bersiap dengan datangmu yang selau saja berbalasan dengan kepergian tiba-tiba, kemudian datang lagi saat aku telah berani memutuskan berhenti. Lalu aku bisa apa? Aku bisa apa?

Mengapa harus selalu aku?
Harus selalu aku yang merasa bahwa aku memang tak begitu penting, tidak di hatimu, pun di hidupmu. Aku selalu saja menjadi aku yang terakhir di hatimu, di hidupmu.

Mengapa harus selalu aku?
Mengapa harus selalu aku yang menuai luka atas kita? Terlalu keras kepalakah aku menpertahankanmu sebagai yang utama? Terlalu berlebihankah aku menggambarkanmu sebagai yang sejati---cinta salah satunya? Apakah segala hal kulakukan tentangmu adalah berlebihan?

Selalu, bumi itu bulat, tak berujung. Tapi kau tahu, di bumi ini ada kata 'lelah, menyerah, pasrah, dan kalah'. Kuakhiri kita dengan kata-kata tersebut. Aku mengaku. Porsi ngilu yang dilahap hatiku telah mencapai batas maksimalnya.

Posting Komentar

0 Komentar