Surat untuk Abang

Selamat malam, Abang.
Beberapa tahun yang lalu, aku juga menyapamu di sini, kan? Bukan hal yang spesial, memang. Kali ini, menulis untukmu membuatku sedikit gugup. Tulisanku tak cukup bagus dan tak mampu disebut layak untuk dibaca. Tapi, bacalah sampai selesai. Meski amatir, ini adalah sebuah pesan yang tak mampu kukatakan secara langsung.

Beberapa waktu lalu, kau mengajak meet up, aku mengiyakan dan menjanji waktu yang tepat. Tapi hingga kini belum kupenuhi. Maafkan aku, ya, Abang. Kau tahu, aku bukan seseorang yang begitu suka keluar jalan-jalan. Bagiku, rutinitas kuliah masih menjadi prioritas utama. Maaf, Abang.

Suatu nanti, aku akan mengajakmu lebih dulu. Akan kupastikan itu. Semoga saja nanti kau tak sibuk. Aku hanya ingin ke pantai. Setidaknya merefresh isi kepalaku yang nyaris meledak ini.

Kuharap kau mengerti, sebab kini tugas kuliahku sedang begitu membludak, belum lagi pelajaran yang kadar kesulitannya meningkat 200% ah, tidak 300%. Sedikit hiperbola, barangkali. Tapi sungguh. Aku tak bohong.

Ohiya, untuk kuliahmu semoga dimudahkan. Semoga lekas memindahkan tali togamu ke kanan dan menjadi lelaki sukses. Semangat, ya, Abang! Adikmu yang berulang tahun pada bulan yang sama denganmu ini akan mendoakanmu.

Posting Komentar

0 Komentar