Kepada Perempuan Masa Depannya

Kepada perempuan masa depan lelaki itu, aku tak mungkin tahu kau siapa. Atau mungkin bisa saja suatu nanti aku akan tahu. Ah, entahlah. Aku hanya ingin memberi tahumu sedikit-banyak tentangnya. Iya, aku tahu. Kau mungkin tidak akan suka atau bahkan tak sudi membacanya. Namun, sebaiknya egomu kau kantongi dulu. Aku tahu, ini akan membuatmu lebih memahaminya.

Aku tak bisa menulis banyak-banyak dan akan kutulis bagian yang masih kuingat saja. Dan sungguh, aku tak memaksamu membaca ini jika kau benar-benar tak ingin.

Lelaki itu akan jarang kau dapati tersenyum dengan orang di sekitarnya. Namun, kau pasti tahu satu hal ini. Sebenarnya dalam hatinya, ia hangat dan begitu peduli. Ia mudah bersimpati kepada orang lain. Mungkin rasa simpatinya suatu saat akan membuatmu terbakar cemburu. Aku pernah merasakan hal itu. Kurasa kau punya tugas baru untuk menjaga kesehatan hatimu. Jagalah kadar simpatinya dengan takaran yang secukupnya saja untuk orang lain. Sebab dulu, aku terlambat, dan seorang perempuan menjangkaunya dengan seribu macam cara untuk menarik simpatinya berulang-ulang, terus-menerus.

Lelaki itu terlihat tegar, tapi sebenarnya ia kadang menangis ketika sendirian. Ia juga bahkan sering melamun dengan mimik sedih yang tergambar di seluruh wajahnya. Tapi ia takkan menceritakannya padamu jika bukan kau yang bertanya lebih dulu. Baginya, pundaknya sudah sedemikian lebar untuk menampung segala sedihnya sendiri.

Lelaki itu, jika kau benar-benar dicintainya ia akan melakukan segala hal untukmu. Jika ia benar-benar mencintaimu lalu tanpa sengaja ia melukaimu, maka ia akan menyalahkan dirinya sendiri, terluka sendiri, bahkan melukai dirinya sendiri. Hingga mungkin jika setelah itu kau bertemu dengannya, kau akan menemukan beberapa luka dan lebam di tangan dan kepalanya. Bekas memukuli dinding dan membentur-benturkan kepalanya pada dinding. Dan ia takkan mengatakan apapun, selain mengelak dan berkata bahwa itu hanya sebuah kecelakaan kecil.

Lelaki itu, ia memang terlihat kuat dan sehat. Jika ia mencintaimu, ia akan lebih dulu menanyakan kabarmu dan tak peduli dengan kesehatannya sendiri. Suatu nanti, jika kau bersamanya mungkin sakit yang dideritanya dulu sudah sembuh, tapi kau harus tahu satu hal ini. Dia mudah sakit. Kau harus mencoba memeriksa tas yang dibawanya jika bertemu dengannya. Di dalamnya, akan kau temukan obat yang selalu ia bawa.

Lelaki itu sedikit-banyak bisa kau andalkan hafalan Qurannya. Kelak, kau harus mendengarnya melafalkannya. Suaranya yang  khas, dan aku yakin kau akan kecanduan. Lebih dari bernyanyi, aku lebih suka mendengar pelafalan Qurannya.

Lelaki itu.... Shhuuut! Ini adalah rahasianya. Tapi biar aku beritahu, ketika ia ingin makan sesuatu pada tengah malam, ia akan lebih memilih untuk menahannya. Ia takut ke dapur sendirian di-rumahnya-sendiri. Katanya, ada sesuatu di sana yang--- kau pasti tahu maksudku.

Lelaki itu, ah, yang ini kau pasti suka. Ia adalah lelaki yang sangat peka. Perkataanmu yang seminim apapun akan mudah ia pahami maksudnya. Bahkan lagak diammu sekalipun. Tanpa kau banyak bercerita dan memberinya kode yang keras ia akan menangkap maksudmu. Jadi, kau tak perlu membuang tenagamu mengutarakan segalanya dari a sampai dengan z.

Lelaki itu, sekali lagi, jika kau benar dicintainya ia akan mengorbankan segalanya untukmu. Dia cukup bisa dihandalkan perihal berkorban. Coba saja kau katakan bahwa kau merindukannya, ia akan berusaha menemuimu meskipun harus berkorban banyak hal.

Ohiya, satu hal lagi. Lelaki itu mudah sekali terkena flu. Kau tahukan harus berbuat apa jika mengetahui ini?

Kepada perempuan masa depan lelaki itu, aku meminta maaf atas banyak ke-sok-tahuanku tentangnya. Inilah bagaimana aku memahaminya dulu. Mungkin dia sudah berubah. Namun, kau tahukan seseorang tidak akan pernah bisa merubah seluruh dirinya.

Maka, kepada perempuan masa depannya, terima kasih karena bersamanya dan maaf jika aku sedikit 'mengguruimu'. Aku menulis ini bukan karena mencintainya. Demi apapun, sudah-tidak-sama-sekali. Sebab kini aku bahagia dan aku ingin dia dan kau juga sama bahagianya.

Posting Komentar

0 Komentar