Kepada Perempuan Masa Depan Dia

Kepada perempuan masa depan dari lelaki masa laluku, akan kuceritakan sedikit hal yang kuketahui tentangnya. Kukatakan lagi seperti surat-suratku sebelumnya kepada orang lain, jika saja bagimu ini tak penting, abaikan saja! Sebab bisa saja, kau lebih paham ia daripada aku.

Tak banyak yang bisa kuceritakan tentangnya. Berada di sekitarnya adalah waktu yang tak mampu kuhitung lamanya. Namun, meski telah sedemikian lama, aku tak bisa paham ia. Sungguh tak pernah bisa. Sejauh ini, aku mendapati diriku kalah terlalu banyak oleh ketidakpahaman yang menuntunku ke jalan buntu agar bisa mengenalinya lebih dalam. Mungkin aku tidak lebih baik darimu perihal memahaminya.

Dia adalah lelaki humoris. Aura humorisnya terpancar ke seluruh wajahnya. Tapi mengenai ini, kurasa kau punya tugas. Buatlah kadar humorisnya menjadi seala-kadarnya saja! Tidak berlebihan dan tidak melukai perasaan orang lain. Jika ia melakukannya, cubitlah saja pinggangnya! Itu pernah berhasil. Ah, maaf. Maaf. Lakukan saja dengan versi terbaik menurutmu sendiri. Karena kau adalah perempuan masa depannya, sudah pasti ia akan mendengarkanmu dengan baik, kan?

Dia adalah lelaki yang tahan berlama-lama mengenakan topeng humorisnya untuk menutupi sedihnya. Dengan lengkungan senyum dan tawa pada topengnya itu, ia menutupi seluruh luka tusuk di tubuhnya. Sesekali kau membuatnya menangis. Buatlah ia meringis! Maksudku, kau punya hal lain lagi yang harus kau lakukan. Ajaklah ia berbicara hingga ia bercerita tentang seberapa sulit ia selama ini menutupi lukanya, dan berhenti berpura-pura dengan begitu dahsyat bahwa ia baik-baik saja. Ia terlalu banyak mengantongi batu sendirian dalam sakunya. Berbagilah batu itu dengannya. Kurasa ia hanya butuh sebuah percaya untuk bercerita. Sebab dulu, aku gagal dan tak pernah bisa mengorek isi hatinya. Sedikit kutebak, baginya aku mungkin bukan orang yang tepat untuk ia berbagi cerita, juga baginya aku bukan pendengar yang baik.

Dia adalah lelaki yang emosinya sulit kau tebak. Kadang penuh mood yang bagus, dan kadang mencapai titik kulminasi unmood. Ia perlu mengatur emosinya. Jika tidak, maka bersiaplah kau bingung dibuatnya.

Dia adalah lelaki yang selalu amnesia bahwa mengomunikasikan apa yang ingin ia katakan adalah penting. Terlalu banyak diam, dan kau punya beban untuk paham apa yang ia ingin katakan. Bebanmu cukup berat, kan? Bagiku, seberapa besarpun sepasang manusia saling mencintai, itu takkan cukup. Mengomunikasikan perasaan adalah tangga hubungan nomor satu.

Namun, dibalik banyaknya kebungkaman yang ia ciptakan, ia baik. Ia suka menolong ketika temannya sedang mengalami kesusahan, juga kau tak perlu takut, sebab ia juga cukup dermawan.

Dia adalah lelaki yang cukup pandai bermain gitar. Suatu nanti, kau harus memintanya menyanyikan sebuah lagu dengan iringan gitarnya untukmu. Manis dan romantis, kan? Selamat dibuat memerah pipimu olehnya.

Ada satu hal lagi. Bagian ini, aku menjaminnya, bahwa ini adalah kabar gembira untukmu. Dia memiliki ibu yang cantik, sangat baik, begitu ramah. Ketika mengenalnya dan ia menyukaimu, kau akan merasa bukan sebagai masa depan anak lelaki beliau, tetapi lebih ke seperti anak yang ia besarkan sendiri. Sedikit hiperbola, barangkali. Tapi sungguh, masa-masamu sebagai perempuan masa depannya akan membahagiakan karena kehadiran ibunya.

Sekian saja yang kupahami tentangnya. Meski telah bertahun-tahun mengenalnya. Lucu, kan? Aku yang sepandai ini memahami orang-orang di sekelilingku justru tak bisa memahaminya meski punya kesempatan waktu yang lama. Aku mengaku kalah. Sungguh.

Dan ohiya, tolong jangan salah paham! Perasaanku padanya sudah berakhir. Aku lelah. Aku memilih menyerah dan berhenti dari kesia-siaan membawa perasaan yang bagiku tak mungkin akan menemui akhir yang bahagia. Kisah Tuan dan Nona sudah sampai pada titik terakhir dalam buku cerita kami. Istana yang pernah kami bangun telah roboh. Seluruh tepukan tangan yang pernah ada dengan begitu keras untuk kami berganti menjadi sorakan kecewa.

Maka, untukmu. Semoga kau adalah perempuan yang akan hidup bersamanya hingga rambut di kepalanya memutih.

Dari perempuan masa lalu yang paling lalu dari masa depanmu.

Posting Komentar

0 Komentar