Entah kapan aku bisa berhenti menulis tentangmu. Tulisan yang lalu adalah tulisan kali terakhirnya aku menulis bahwa aku masih mencintaimu. Lalu, tulisan kali ini akan menggambarkan antonim dari mencintai; Aku tak lagi merasakan perasaan yang lalu. Sudah puaskah kamu dengan perasaan yang kini?
Tahukah, bahwa pada hari-hari sebelum hari ini. Aku berharap kamu berubah. Aku berharap ada secercah saja harap agar kamu bisa meluluh. Namun tidak, senyatanya tidak. Kamu tetap kamu. Si Keras Kepala yang hanya terlalu memikirkan perasaanmu sendiri.
Lalu, pada akhirnya...
Aku memilih untuk menyerah saja. Karena kamu sepertinya bukan orang yang cukup tepat denganku. Kamu bukan orang yang bisa mencairkan suasana. Kamu bukan orang yang mampu mengerti aku tanpa kuminta. kamu bukan orang yang bisa bertahan cukup kuat. Kamu bukan orang yang cukup mampu bersikap dewasa. Atau entah saja; kamu yang tak cukup tepat bagiku, atau aku yang tak cukup tepat bagimu. Atau bahkan kita sama-sama bukan orang yang tepat untuk bersatu.
Sudahlah, Tuan. Tak usah bertingkah keterlaluan lagi ketika seseorang menyebutkan namaku. Tak usah lagi! Kalau kamu telah bersikap seolah tak lagi mengenal aku, silakan saja! Bukankah itu adalah satu-satunya jalan yang bagimu terbaik? Namun, akan lebih baik lagi jika kamu bisa mendewasakan dirimu. Memaafkan pun memikirkan perasaan orang lain.
Mungkin menunggu hal itu terjadi, seperti aku mengharap matahari tetap terlihat di malam hari. Mungkin seperti mengaharap matahari berdampingan dengan bulan. Ya, kurasa seperti itu.
Lalu, pada beberapa hari ini..
Aku mencukupkan segalanya. Kurasa sudah cukup. Keadaan memang tak pernah mampu kita paksakan. Meskipun kita mati-matian berusaha, meskipun kita mati-matian menunggu.
Kurasa sudah cukup. Namun, tolonglah! Berhentilah bersikap sebagai Tuan Egois. Berhenti bersikap seperti itu!

0 Komentar