Kurasa ini waktunya. Karena seharusnya ini sudah kulakukan sejak lama, sejak kisah yang buruk itu terjadi. Seharusnya aku sudah pergi sejak lama dan menghapus segala kenangan itu. Ketika usahaku untuk memperbaiki keadaan selalu remeh di matanya. Ketika ia mulai bersikap acuh tak acuh. Dan ketika ia tak pernah lagi menjanjikan senyum untukku. Yah, kurasa ini saatnya.
Mungkin serupa ini nyeri di dadanya ketika aku membaca sebuah status yang ia share tentang masa lalunya juga. Yah, ini adalah nyeri dari nyeri yang paling nyeri. Mungkin takdir memang enggan menyatukan kita. Dan keras watak kami hanya akan meledakkan bom jika menyatu.
Jadi, aku menyerah di sini. Cukup bodoh, mungkin. Karena perasaan ini telah kita jaga hingga begitu lamanya. Namun, semua menjadi percuma. Karena banyak hal yang menjadikan semuanya hingga tak mampu menjangkau titik yang bernamakan sefrekuensi.
Selamat tinggal, Tuan.
Semoga mampu menemukan kebahagiaan dan cinta yang jauh lebih membuatmu merasakan apa yang selama ini kamu cari.
Terima kasih untuk semuanya.
Untuk ucapan selamat tidurnya
Untuk ungkapan sayang dan cintanya
Untuk cemburunya
Dan satu-satunya hal yang paling tak mampu kulupa : Terima kasih telah mengantarku pulang dan menuntunku waktu itu.
Terima Kasih
Terima kasih, dan
Terima kasih.

0 Komentar